Reading

You have to read a lot, you will find a wonderful word.

BE HAPPY

If you're happy, you will spread your happiness around you.

BE KIND

The world needs you to be nice and great person.

Grateful

What thing you have know is the best thing for you, be grateful of it.

Never stop traveling

Go to some where with your friends that makes you more relax.

Achieve your dreams!

Make people proud of you.

Achieve your dreams!

Make people proud of you.

Sunday, September 8, 2019

Di Jalur Ujian Yang Berbeda


Assalamu’alaikum Warohmatullah Wabarokatuh teman-teman...

Bagaimana kabar kalian minggu ini? Aku rasa kalian disibukkan dengan tugas kalian masing-masing ya, alhamdulillah kalau begitu, semoga disibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat ya. Jangan lupa jaga kesehatan kalian. Then, the important thing is you have to keep your iman.

Alhamdulillah, keadaanku sudah mulai membaik, J sudah bisa berbicara kencang, wkwkwk, sudah bisa bercerita panjang, dan tentunya sudah bisa mendengarkan cerita-cerita yang mengasikkan. Aku sudah sehat dari pneomoniaku, alhamdulillah sudah bisa mengikuti kuliah dengan lancar dan bisa haha hihi dikelas. Alhamdulillah, Allah berikan aku nikmat kedua setelah iman, yaitu sehat. Namun, aku masih perlu kontrol lagi biar memastikan kalau pneomoniaku sudah sembuh. Doain ya...
Oiya, minggu ini tugasku hanya beberapa saja jadi aku berniat untuk menulis tulisan yang belum aku tulis di blog. Sudah lama ingin menuangkan cerita-cerita teman-temanku yang sangat inspiratif buat pelajaran hidup kita. Salah satunya adalah cerita dari salah satu adik tingkatku, dia bercerita banyak kepadaku tentang perjuangannya semasa kuliah dengan keluarganya. Ceritanya membuatku tersadar bahwa kita semua ini ada di jalur ujian berbeda-beda dalam hidup ini.

Setelah lulus SMA, dia lolos di SBMPTN di UNESA, dia yang juga berasal dari kota yang sama denganku dipertemukan Allah di kegiatan jurusan b. Inggris. Alhamdulillah sekarang dia kenal baik denganku. Yang ingin aku ceritakan adalah perjuanganya menyelesaikan studynya.  Iya, dia sebenarnya tidak begitu fokus dengan study selama s1 nya, kadang ingin saja menyerah, karena banyak pikiran yang bisa membuatnya stress. Bukan hanya karena tugas kuliahnya saja, akan tetapi, hal lain yang membuatnya cepat berotasi ke dalam kesedihan. Dengan banyaknya tugas kuliah, biasanya aku tinggal pulang kampung biar otak refresh lagi. Tapi tidak dengan dia, dia terkadang tidak mau pulang kampung.

Dia berkata dia penuh konflik batin ketika pulang kampung. Dia nggak ingin tambah pusing ketika pulang, memikirkan tugas kuliah ditambah orang-orang rumah. Lalu aku bertanya “lha kenapa dengan orang-orang rumah, dek? Kamu di minta ngerjakan pekerjaan rumahkah?”. “Nggak mbak, maaf ya mbak aku jujur kalau pulang itu aku serba salah, aku harus menghadapi bapakku, bapakku moodyan gitu mbk?”. Jawabnya.  “Moodyan bagaimana dek?” tanyaku. Dia mulai becerita “Bapaku sedang sakit mbak,  beliau terkena stroke mbak, jadi sekarang ndak bisa ngomong jelas, kalau misal aku ngomong apa gitu dianggap beliau marah, padahal aku ndak bermaksut marah. Lalu kalau aku bicara pelan-pelan gitu, yang enggak kedengaran beliau, beliau kira aku sedang guncing beliau, aduh serba repot deh. Aku kadang dirumah sering emosi dengan keadaan bapakku mbak, makanya dari itu aku terkadang nggak pengen pulang.” Jelasnya. "Ya Allah, jadi bapakmu sakit? Sejak kapan?” tanyaku. “sejak aku SMA mbak.” (seingatku dia bilang sejak SMA). “Jadi ibu yang sekarang juga buka toko kecil-kecilan mbak dirumah sambil rawat bapak dirumah.” Jelas dia.

MasyaAllah, aku merinding mendengarkan cerita dia, dibalik dia yang ceria di depanku, ternyata ada banyak hal yang dia sembunyikan sendirian. Dia kuat menahan emosinya yang membara, ketika di depan bapaknya, yang kadang mood-moodan kalau ngajak ngomong. Dia sedang di uji Allah. “Sabar ya dek, ketika kamu merawat bapak, InsyaAllah itu ladang amal kamu untuk berbakti pada orang tua.” Ucapku pada dia. “Iya mbak, terkadang aku curhat sama ibu ku, aku capek hadapin bapak, aku lelah gitu mbak, dan aku juga kasihan sama ibu ku .” Rintih dia. “aku turut sedih dek, tapi mau bagaimana lagi, Allah ngasih ujian sesuai kemampuan kita, seperti itu InsyaAllah, iya diterima ya dek, aku doakan semoga bapak mu segera sembuh ya, pasti ada hikmah di balik semua ini kan?” jawabku. “Iya mbak, setelah itu, aku berpikir banyak sekali mbak hikmah dari bapak sakit itu, salah satunya membuat aku dan ibu ku lebih ikhlas menerima takdir dari Allah, ladang amal ibuku untuk merawat bapak ku.” Ujar dia.

“Makasih ya dek, udah kasih aku pelajaran dari hidupmu, aku sekarang harus lebih banyak bersyukur, harus banyak banyak mendoakan orang juga ya, karena kita tidak tahu teman mana kita yang sedang dalam kesusahan, makasih  ya dek, sudah cerita denganku.” Tutup pembicaraanku dengan dia.

Padahal di awal, aku tidak mengira kalau dia punya masalah seberat itu dirumah, aku tahu pasti dengan bapak nya sakit di rumah membuat psikology nya terganggu, pasti ada tekanan batin tersendiri dalam menjalani kehidupannya di perkuliahan. Ohh, aku tidak bisa membayangkan kalau itu terjadi pada ku. Ya Allah, berilah kesabaran untuk dia dan keluargnya. Aamiin

Dari cerita yang diceritakan adik tingkatku, sekali lagi aku katakan, kita berada dalam jalur ujian berbeda. Allah tahu betul jalur kita sudah sampai mana, Allah tahu betul kapasitas kita seberapa, maka dari itu, segala ujian yang datang ke kita sudah Allah ukur sesuai kemampuan kita. aku merasakan betul hal itu. Ketika aku belum bisa menerima ujian tersebut, maka Allah bantu mampukan aku saat itu juga. Pun dengan kalian teman, Allah pasti membantu kamu disetiap ujian yang kamu hadapi.

Di hari yang sama, adik tingkatku yang lain juga berkunjung kekosanku, dia tiba-tiba menangis sedih di depanku. “Lho, kenapa dek? Ada yang perlu aku dengarkan, ceritaa saja ndak apa-apa,” ucapku. “Mbak, aku finansialku lagi sulit, aku kemaren pulang, niatku mau minta uang sama orang tuaku, tapi aku malah di marah-marahin, aku dimarahin mbak ku juga. Padahal ya mbak, aku ini sepeda motor ngredit sendiri lho, sekarang waktunya bayar, terus uangku sudah mulai menipis mbak, nunggu uang bayar les, juga belum dibayar.” Dia sambil nangis dan aku peluk. Aku tersentuh di kamar kosan yang lembar menurutku.
“Ya Allah dek, tarik nafas yang panjang dulu ya, ndak apa-apa. Semua masalah ada solusinya kok.” Tenangku kepadanya.  Dia tersesak sesak menangis di bahuku, “Ya mbak, yang aku masalahkan sebenarnya bukan uangnya sih mbk, tapi orang-orang dirumah, apalagi mbakku, entah kenapa dia itu benci sama aku, aku pulang aja gitu katanya nyusahkan orang tua, pokok omongnya g enak, aku benci mbak, ya nggak apa-apa nggak dikasih uang, tapi coba ngomong yang baik-baik kalau belum punya uang gitu, aku sakit hati banget mbk.” Curhatnya sambil berceceran air matanya.

“Iya dek, tarik nafas lagi ya, istigfarr, tenangin pikiranmu dulu, ndak apa-apa, kan ada aku, yang bisa kamu jadikan mbak juga J “ ucapku. “ sekarang tenangkan pikiran dulu ya, nanti kita cari jalan keluarnya sama-sama. Ucapku ingin menenangkannya.

Dalam satu hari, aku di pertemukan Allah dengan dua orang yang berbeda permasalahannya, bukan permasalahan kuliah lagi, tapi permasalah hidup. Ujian mereka berat-berat ternyata, yang mana jika itu terjadi padaku, entahlah aku tidak bisa membayangkan. Allah maha tahu betul setiap makhluknya. Allah pasti sayang dengan adik-adik tingkatku itu, dengan bukti ujian yang mereka hadapi. MasyaAllah. Aku merinding lagi rasanya.

Aku bersyukur banget di lahirkan Allah dari keluarganya yang alhamdulillah baik-baik saja, yang selalu support aku, selalu ada untuk aku di keadaan apapun. Kita doakan ya teman-teman semoga teman-teman kita yang sedang bermasalah dengan keluargnya atau sedang di uji hidupnya, semoga diberi Allah kemudahan dan diberi kekuatan. Aamiin

Sekali lagi, kita semua berada di jalur ujian yang berbeda-beda ya. Pastikan bahwa Allah tetap bersama kita.

Teman-teman, sebenarnya ada banyak cerita yang belum aku ceritakan dari berbagai persoallan hidup dari teman-temanku yang banyak hikmahnya. Semoga dari kisah adik tingkatku yang bapak nya sedang sakit stroke, dan yang satunya sedang berjuang memenuhi kebutuhan finansialnya, dua contoh itu semoga membuat kita sadar bahwa hidup kita perlu disyukuri di manapun kita diposisikan Allah. Semoga Allah selalu membersamai langkah kita. sudah sepatutnya, kita bersyukur atas nikmat Allah yang di berikan ke kita. ada banyak masalah yang rumit di luar sana yang mungkin belum bisa kita selesaikan, karena Allah begitu sayangnya dengan kita, kita di beri ujian sesuai dg kemampuan kita. Allahuakbar. Tiada yang bisa memberi kekuatan selain Allah SWT.

Selamat berjuang di ujian kalian masing-masing yaa..... saling mendoakan, semoga Allah selalu menolong kita, AamiinJ)

Monday, September 2, 2019

Fokus pada apa kalian?


Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh..

Bagaimana keadaan kalian? Aku harap selalu sehat dan bahagia ya. Semoga apa-apa yang menjadi tugas kalian sekarang dimudahkan Allah untuk menyelesaikannya. Semoga diberi kelancaran disetiap langkah untuk kehidupan yang sementara ini. Tetap semangat menjalani hidup ya....

Nggak ada yang mau tahu sekarang aku lagi dimana? Haha, ya sudahlah aku kasih tahu, kalau sekarang aku berada ditempat pencucian sepeda motor di daerah sekitar kosanku. Setelah pulang dari dari kampus karena tidak ada jam kuliah, aku harus menyelesaikan tugas-tugas lain yang menjadi tugasku. Salah satunya aky harus memperhatian kebersihan sepeda motorku, sudah satu bulan tidak aku cucikan, karena ku tinggal pulang, walaupun jarang aku pakai bulan ini, ya debunya kelihatan banget ya. hmmm.

Teman, apakah kalian sudah memperhatikan kendaraan kalian? Sudahkah bersih atau masih berlumur dengan debu dijalan? Hehe. Aku ingatkan, segeralah memperhatikannya. Dengan mencucinya, sama artinya kita menyayanginya. Dengan mencucinya, berarti kita sudah bersyukur atas diberikan benda itu. Dengan mencucinya, berarti kita merasa berkewajiban memeliharanya. Itu baru saja satu benda yang aku miliki, benda-benda lainpun harus aku perhatikan. Harus aku pastikan apakah sudah dalam keadaan baik atau belum.

Teman, berbicara tentang memperhatikan benda yang kita miliki, apakah kita juga sering memperhatikan hati kita? apakah hati kita dalam keadaan baik-baik saja? Apakah hati kita perlu kita benahi atau bagaimana? Sudahkah kalian menanyakan hal-hal tersebut diri kalian? Pertanyaan-pertanyaan itu juga harus aku tanyakan ke diri aku sendiri setiap hari kalau bisa.

Karena hati ini penting banget yaa kita rawat, kita perhatikan, kita perbaiki, dan pastikan apakah baik-baik saja. Kata Aa Gym “Hati adalah cerminan diri kita, ketika hatinya baik, baiklah seluruhnya.”Ketika hati kita bersih, mudahlah kita menyerap ilmu, melakukan hal baik, dan tentunya bisa menerima nasihat-nasihat yang baik” inti dari nasihat Aa Gym. Dari situ kita bisa berpikir, betapa pentingnya hati itu yaa. Hati adalah cerminan bagaimana kita bersikap. Apakah kalian setuju? Iya dong. harus setuju! kalau enggak aku....(peace)

Aku juga masih teringat betul kata Ustad Dody, salah satu trainer, mengatakan bahwa kesuksesan bisa diraih oleh mereka-mereka yang bisa memanage hati mereka dengan baik, mengatur hati mereka sesuai dengan fitrahnya. Semakin baik kita memanage hati kita, semakin dekat kesuksesan itu. Dan tentu ya, kesuksessan itu tidak berupa materi saja, tetapi ketentraman hati adalah kesuksesan terbaik untuk kita. Karena banyaknya materi tidak berarti hatinya tentram. Boleh jadi, hatinya meraung-raung.  Jadi, not all happiness come from money.

Perlu diingat juga ya kawan, yang membolak-balikkan hati ini memang Allah. Kita tidak ada daya untuk mengendalikan hati kita. Namun, kita harus berusaha untuk menjaga hati kita dalam kondisi baik, dalam keadaan steril, dan tentu dalam ketaatanNya. Kita nggak bisa mengubah hati kita se enaknya. Allah-lah yang mengendalikan hati kita. Boleh jadi detik ini hati kita mengarah ke satu sisi, dua menit kemudian Allah membalikkan kesisi yang lain. Kita tidak tahu kan?.

Yang kita harus tekankan yaitu kita harus berusaha mencondongkan hati ini ke Allah, karena Allah yang bisa menolong hati kita agar bisa tetap baik-baik saja. Hanya Allah-lah yang bisa membuat hati kita tentram, hati kita tenang, dan selalu waspada. Hanya Allah yang bisa melakukannya. Oleh karena itu, sering-sering mengingat Allah dengan dzikir, menyadari nikmat yang diberikan-Nya, dan masih banyak hal lain untuk bisa dekat dengan Allah. Ketika kita dekat dengan Allah, sudah pasti hati kita akan dijaga, akan baik-baik saja.

Teman, aku tahu kita semua sedang berusaha setiap hari untuk menjadikan hati kita baik-baik saja, untuk bisa membuat hati kita tentram dan tenang. Kita setiap hari berusaha begitu kan? Tapi sekali lagi, Allah hadirkan hati untuk merasakan banyak hal. Mungkin jika saat ini ada diantara kita sedang ada yang sakit hatinya, atau mungkin sedang tidak karuan perangannya, mungkin tandanya kita sedang diuji Allah. Apakah dengan hadirnya kesedihan itu kita tetap ingin didekat Allah? Apa dengan ujian kita memilih percaya sama Allah? Apa dengan ujian kita terus berusaha untuk belajar bertumbuh menjadi baik? Allah ingin tahu reaksi kita untuk membuktikannya.

Mari tetap semangat untuk memperbaiki hati, agar hati tidak sekotor barang-barang yang kita lupakan. Kadang, kita lebih fokus memperbaiki dan memelihara benda yang kita miliki dari pada fokus memperbaiki hati yang sudah kotor. Kadang, kita lupa akan hati yang sudah membeku, ingin segera kita bersihkan tapi kita malah mengabaikannya. Yuk, sama-sama terus memperbaiki hati, memelihara hati agar tetap bersih. Dengan apa? Dengan sering-seringnya kita mendengarkan nasihat-nasihat baik, melihat hal-hal baik, dan melakukan hal baik, cari tahu apa yang Allah suka, dan banyak kebaikan-kebaikan kecil lainnya. InsyaAllah dengan melakukan semua itu Allah izinkan hati kita menjadi bersih. Aamin

Terimakasih sudah membaca J


Wednesday, August 28, 2019

Kamu butuh istirahat, maka istirahatlah sejak.




Terhitung satu bulan sudah, aku tidak memperdayakan diriku. Ya, seingatku mulai tanggal 27 juli kemaren tubuhku mulai memberikan reaksi untuk segera aku lihat dan perhatikan. Tapi aku selalu mengabaikan. Mulai kurang minumlah, terkadang makan tidak teratur, just focus on thing that I wanna touch and do. ya namanya juga manusia ya terkadang juga lupa, lumrah, hehehe.  Badanku mulai seperti pegal semua, tapi aku abaikan, mungkin ya kecapekan. Aku buat tidur nanti pasti sehat lagi, pikirku.
Paginya aku terlihat sehat, mulai membersihkan diri, menata kamar, mencuci, membeli ini, itu,  dan aktivitas lain untuk segera ku selesaikan karena jam 9 aku ada janji dengan salah satu muridku SD untuk ku ajak jalan-jalan ke kebun binatang. Aku sudah sangat dekat dengan dia, sehingga orang tuanyapun mengizinkannya untuk pergi denganku.
Langsung saja aku kebergegas ke rumah muridku. Sudah satu bulan kami tidak bertemu jadi saat itu aku berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan mamanya yang kebetulan saat itu sedang sakit karena masih ada otot yang kecepit karena bekas jatuh tahun lalu. Mamanya sedikit menceritakan kronologinya sakit. Aku turut berduka, dan mendoakannya agar segera diberi kesembuhan. tetapi Alhamdulillah sekarang sudah mulai membaik, saat sakitpun beliau harus tetap masuk kerja karena sudah menjadi kewajibannya.
Tiba-tiba, setelah perbincangan kami yang lumayan panjang, aku merasakan sesuatu dari tubuhku. Mataku berkunang-kunang. Aku tahu kalau tubuhku ini mulai memberikan kode akan tiba saatnya aku mau pingsan. Tapi aku merasa masih kuat. Aku kan mau berangkat ke kebun binatang jadi aku harus semangat. Berangkatlah aku dan anak didiku dan berpamitan dengan mamanya. Aku berhenti sebentar, sekitar lima menit, muridku terdiam, akupun aku diam karena kepalaku mulai pusing. Dia tidak tahu kalau aku sedang pusing. Aku bilang “sebentar ya”.
Setelah itu aku izin ke dia kalau mau ke toko sebentar. Aku beli tolak angin, mungkin aku sedang masuk angin. Aku berdoa ke Allah untuk menguatkan badanku, menguatkan diriku agar bisa menuju tempat yang aku tuju. Aku berdoa agar aku kuat sampai nanti aku pulang. Saat itu aku tidak punya pilihan lain, ya hanya berdoa adalah salah satu cara untuk tetap ada di rencana awal. Tidak mungkin aku kembalikan lagi anak muridku kerumah, aku enggak mau membuatnya kecewa karena rencana ini sudah ku rancang lama.
Tak lupa aku juga membeli makanan ringan untuk ku bawa ke kebun binatang. Setelah itu aku beristirahat sebntar dan alhamdulillah, Allah memberikan aku kekuatan, kunang-kunang yang tadinya ada di kepala sekarang hilang, aku sehat kembali. Sehingga aku dan muridku bisa berangkat dengan aman dan menikmati berlibur di kebun binatang. Oiiii, seruuu sekaleeeeee.. dan tentunya dia juga senang sekali. Dia bercerita banyak saat bersamaku, dia termasuk anak yang aktif dan penasaran dengan apapun.  Terimakasih ya sudah membersamaiku berjalan-jalan, hehehe.
Sebenarnya, rencana awal aku akan pergi bersama teman sekosanku untuk mengajak muridku ke kebun binatang, berhubung ternyata tiba-tiba temanku ada keperluan mendadak, yasudalah, aku berangkat seorang. It’s oke. Singkat cerita seperti itu.
Pulanglah aku ke kosan tercinta, aku sehat, tetapi badanku agak meriang. Tiba-tiba malamnya, aku demam. Demam parah......mengigil. rasanya dingin, tapi badanku panas. Aku coba minum penurun demam, aku coba didihkan air hangat agar tidak kedinginan. Aku tidak nggak kuat. Ya sudah. Aku becoba sabar menanti subuh. Dan alhamdulillah subuh datang, demamku turun.Aku menghubungi orang tuaku bahwa aku sedang sakit untuk mendoakanku agar di beri kesembuhan Allah.
Akhirnya, malamnya demam lagi, entahlah. Demam ini tiba-tiba. Tahun lalu juga pernah demam tiba-tiba gini. Apa aku kecapekan ya. Demam kali ini beda, kepalaku juga ikutan pusing. Aku coba minum obat penurun demam (Sanmol, paracetamol, ibu profen, semua aku coba, tentu tidak dalam waktu bersamaan dong, dan  minum yang hangat-hangat, tetapi masih tidak mempan. Aku benar-benar tidak kuat. Teman koskupun berpesan, “ndak apa apa, istirahat yang cukup minum obat”.
“Aduh rasanya enggak kuat, aku susah tidur, pegal semua badan, akhirnya aku sms bapakku, kalau aku sedang sakit, berbegaslah orang tuaku langsung menjengukku ke surabaya”. Aku udah nggak bisa mikir apa-apa. Orang tuaku sampai dikosan aku terlihat sehat. Ingin mereka membawaku pulang saja saat itu. Tetapi aku masih punya amanah.
Saat itu, aku sudah berjanji dengan salah satu guru yang aku kenal untuk membantu anak-anak beliau belajar berbicara bahasa inggris dirumahnya selama dua bulan, aku iyakan saat itu karena sudah dua minggu yang lalu aku sudah dihubungi beliau, aku segera mengirimi pesan ke beliau “Mohon maaf belum bisa menemani adik-adik belajar karena sakit”. Beliaupun merespon dengan baik, dan mendoakan semoga aku diberi kesembuhan.
Amanah yang lainpun berdatangan menghubungiku, yang ini aku sudah bertahun tahun menemani belajar bahasa inggrisnya. Ya, dengan waktu yang tidak bersamaan tetapi di minggu yang sama saat aku sakit mama-mamanya digrup les bahasa inggris menghubungiku. “Kapan miss bisa mengajar lagi?” lagi-lagi aku harus menjawab sejujurnya kalau aku sedang sakit. Padahal rencana awal minggu depan aku sudah menjadwalkan diri untuk masuk.  Sehingga beliau-beliau mendoakanku, dan menyampaikan bahwa anak-anaknya sudah kangen dengan kehadirangku, oh so sweet. L
Ada juga dua anak yang menghubungiku, yang satu untuk minta bantuan memberi bekal ilmu bahasa inggris beberapa hari karena ingin ke pare katanya.  Yang satu untuk kepentingan IELTS, kalo ini jelas belum bisa menerima karena aku mengukur kemampuanku belum pernah tes ielts kok sok sok an pinter ielts, jadi aku tolak. Ya dua-duanya sih aku tolak, karena aku sedang sakit. Dan juga tiba-tiba saja adik tingkat, kakak tingkat hubungin aku untuk menggantikan lesnya sementara. Semua itu di minggu yang sama, disaat aku sedang sakit demam. Aku mencoba menolak dengan baiik semua kesempatan itu, karena semua itu tidak memungkingkan aku ambil.
Selain itu, ada amanah-amanah lain yang aku kira bisa aku tinggalkan sejenak. Maafkan aku ya teman-teman belum bisa membersamai waktu dekat ini. Sementara menunda sejenak tugas-tugas yang kiranya bisa aku tinggalkan, aku fokuskan minggu itu untuk sehat. Jadi aku tidak ikut pulang orang tuaku, setelah sehat aku bisa aktivitas lagi seperti biasa. Aku harus semangat. Rencanaku seperti itu.
Tahu-tahu, malamnya aku demam, menggigil, dan sakit kepala. Rasanya aku ingin pulang saja. Iya masa’ iya, jam 01.00 aku pulang ke bojonegoro, oh tidak! Aku menggigil, aku hanya bisa menyebut Allah, aku coba menggerakkan tanganku, menggapai telpon genggamku untuk mencari travel pagi menuju bojonegoro, apakah ada atau tidak. Alhamdulillah, aku dapat salah satu nomer travel pagi menuju bojonegoro, dan aku langsung menghubunginya lewat wa. Sekitar jam 2 pagi aku menghubungi travel itu, dan sambil menunggu balasannya, aku mendidikan air untuk membuat badanku terasa hangat.
Akhirnya jam 2.45 travel itupun membalas pesanku, “Maaf, travel pagi jam 6 sudah penuh.” Melihat kata-kata itu merasa butuh malaikat untuk menenangkan diriku. Aku masih menggigil. Aku merasa bersalah tidak ikut pulang saat siangnya di jenguk orang tuaku. Aku lemas, badanku udah menggigil dan tidak bisa apa-apa. Rasanya pengen tidur tapi tidak bisa tidur. Aku spontan sms bapak “ bapak, aku mau pulang ya nanti.” Aku sms sekitar jam 3 pagi. Aku tidak bilang kalau aku sedang sakit. Dan 2 menit kemudian langsung dibalas oleh bapaku. “tak jemput saja, ndak usah bawa sepeda motor”. Dan aku nggak punya pilihan lain, aku memang tidak kuat, untuk bangkit dari tidurpun aku agak sempoyongan. Jadi aku balas dengan singkat “iyaa”. Entah kenapa setelah itu, aku bisa tidur pulas, mungkin karena orang tuaku tahu kalau aku sedang sakit dan mendoakanku, sehingga doa itu langsung tersampaikan, membuatku bisa tidur dari berjam-jam menggigil sendirian.
Aku ndak tahu kalau bapaku mengirimi aku pesan singkat, tiiba-tiba jam setengah enam pagi, telpon genggamku berdering. Ternyata orang tuaku sudah sampai di kosanku. “ah begitu merepotkannya aku.” Tapi aku tahu ini cara orang tua membuktikan bahwa rasa cinta dan sayangnya kepadaku tidak pernah pudar untukku. “Oh Allah, give my parents the best gift from you”.  Nggak ada yang bisa kalahin rasa sayangnya mereka untukku. Mereka adalah malaikatku di dunia ini.
Ibuku langsung memelukku dan membawaku ke mobil, dan aku langsung dibawa ke dokter yang biasa aku kunjungi disaat aku sakit. Aku menceritakan keluhanku. Responya ya seperti biasa, kata dokter aku tidak apa-apa.. pulanglah aku kerumah, dan rutin meminum obat. Semenjak minum obat, rasa kantuk kadang selalu hadir, maunya beraktivitas, kantuk datang, maunya melek, tapi mata ini ingin tidur, ya sudah aku izinkan kau untuk istirahat wahai mata dan tubuhku.
Hari kedua demampun sudah tidak ada, tetapi masih lemes,  hari ketiga demam lagi. Dengan spontan, bapakku langsung mengajaku untuk di cek up kan darah untuk di labkan. Malam-malam aku dibawa ke rumah sakit yang dekat rumah yang di lengkapi dengan pengecekan darah. Hasilnya “ tidak ada DB dan tidak ada typus”. Kata dokternya “Salah makan ini, makan makanan kotor.” Saat hasil keluar aku tidak bisa bertatap muka langsung dengan dokternya sehingga bapaku yang mewakilkan. Karena setelah diambil sample darahku, tubuhku lunglai, lemas dan ingin pingsan. Oleh karena itu, aku menunggu didepan dan duduk dikursi dan bersandar di bahu ibuku. Aku terlihat manja. Iya memang. Maafkan.
Setelah pulang, ya sudah, obatnya rutin aku minum, dua hari ya alhamdulillah aku mulai ada perubahan, tapi dadaku tiba-tiba panas, udah enggak demam, tapi dadaku kadang sakit, dan susah untuk mengawali tidur. Malam selanjutnya, badanku menggigil lagi.  Aku mengeluh pada bapak, bapak ibuk tidak berhenti-berhentinya untuk mendoakanku, begitupun aku juga meminta ampun pada Allah, mungkin aku ada dosa yang ingin Allah hapuskan atau ini adalah bagian dari ujian yang perlu aku lalui. Aku harus berbaik sangka.
Iya sorenya aku sehat-sehat saja, bisa bermain dengan sepupu-sepupuku,karena juga ada acara di keluargaku. Malamnya mulai jam 12 malam hingga jam 3 an badanku panas lagi, aku menggigil kedinginan. Aku berupaya untuk meminta kesembuhan Allah, aku berupaya untuk bisa tidur, tapi agak susah. Saat itu bapaku mendoakanku disholat malamnya, dan ibuku terus berdoa disampingku. “Ah penyakit apa ini, demam kok tidak ada habisnya, ada yang salah dengan tubuhku mgkin.” Pikirku.
Menjelang adzan subuh, bapakuku memutuskan untuk memeriksakan ku ke dokter spesialis, iya karena tidak tahu penyakit apa dalam tubuhku. Dokter spesialis penyakit dalamlah yang sudah ada dibenak bapaku. Ya, karena sudah hafal dengan dokter ubet yang biasanya juga keluargaku priksa jika ada keluhan dengan penyakit dalam, sorenya aku bersama orang tuaku berangkat ke dokter ubet.
Wuiih, begitu banyak ya orang sakit itu, sehingga rumah joglo namanya, tempat dr ubet praktek dipenuhi dengan pasien dari berbagai dari di bojonegoro. Aku yang memandang mereka satu persatu berpikir, “Ya Allah, aku tahu engkau begitu sayang dengan orang-orang ini, sehingga engkau uji mereka dengan rasa sakit.” Pun denganku, aku harus berbaik sangka, aku juga harus memaafkan diriku lagi, untuk menjaga kesehatan lagi.
Setelah namaku dipanggil, aku masuk ruangan dan ditanya oleh pak dokter, “kenapa?” aku menjawab dengan singkat kalau aku demam dan sakit kepala. Setelah itu, aku di USG, dan dokter memintaku untuk duduk dan berhadapan dengan beliau yang sedang menulis resep nya untuk pengobatanku, dan juga aku didampingi oleh bapakku yang setia kepadaku. Bapakpun bertanya ada sakit apa dengan aku, Beliau menjawab “pneomonia, ada peradangan di paru-paru.” Ujar dokter.
Spontan ku menjawab, “apa saya sering pakai obat nyamuk elektrik itu ya pak dokter tiap malam?”  eeh pak dokternya njawab “ ohh gitu,,  ya memang radang paru-paru, nanti kalau 8-9 hari tidak ada perubahan, nanti dironsen ya.”  Kami menjawab “baik, terimakasih.”
Sambil menunggu antrian obat di apotek, aku coba mencari tahu apasih penyakit “pneomonia itu, penyebabnya apasih, dan bagaimana mengatasinya.” Aku di bantu cari info dengan adik sepupuku yang kebetulan tinggalnya dekat dari tempat dr ubet praktek, jadi dia sekeluarga juga mengunjungiku saat di priksa di dr ubet.
Ternyata menurut info yang aku baca “pneomonia adalah radang paru-paru atau paru-parunya terkena infeksi, bisa jadi dari bakteri atau virus.” Virus atau bakteri bisa masuk ke paru-paru melalui banyak cara, bisa melalui udara ataupun makanan. Jadi bisa jadi orang yang terkena penyakit ini tertular oleh orang yang juga terkena pneomonia saat orang itu batuk ataupun bakteri dari makanan kotor yang tidak sengaja masuk dalam tubuh.
 Gejala penyakit ini ternyata ada di aku, walaupun aku enggak batuk, ada demam, sakit kepala, dada terkadang terasa panas, dan nyeri. Pengobatan yang bisa dilakukan untuk menghilangkan bakteri atau virus bisa rutin mengonsumsi antibiotik yang diberikan oleh dokter, jika pneomonianya termasuk ringan. Tetapi jika berat, rawat inap, mendapatkan perawatan khusus dari dokter. Ngerinya lagi, penyakit ini adalah salah satu penyakit yang mematikan di dunia di kalangan balita, karena balita belum mempunyai daya imun yang kuat  untuk melawan penyakit sehingga jika pneomonia tidak ditangani dengan benar maka akan membahayakan balita.
Dari informasi yang aku dapat diatas, mulai banyak persepsi dari orang-orang sekitarku kalau aku banyak aktivitas inilah, kurang inilah, sering ini, sering itulah. Itu membuatku menjadi sumpek. Eh, tarik nafas dulu dahh.. J tenang, kudu tenang. Dan berpikir “Apa iya mau meninggalkan segudang aktivitas yang ingin aku lakukan” rasanya kalau aku tidak melakukan kegiatan –kegiatan banyak aku bakalan tambah sumpek dan mungkin menambah aku nggak sembuh-sembuh. Tarik nafas, sabar, waktunya istirahat sebentar.
Aku mulai berpikir dengan otak dingin, mungkin sementara, aku harus mempending dulu aktivitas-aktivitas ku, untuk mengistirahatkan badanku. Merasa sedih sih mendengar kalau kita dinyatakan sakit tertentu, tetapi kata bapaku yang selalu menyemangatiku “Ndak-apa-apa, kamu harus semangat untuk bisa sehat lagi, kamu harus berusaha untuk melawan penyakit itu, kalahkan dia dengan semangat, dengan olahraga, makan makanan yang bergizi, istirahat yang cukup, InsyaAllah sembuh-sembuh, kamu kecapekan memang, sudah tidak apa-apa, sementara dirumah dulu jangan bali ke surabaya.”
Kata-kata diatas mendinginkan otakku yang sedang panas, betul apa yang dikatakan bapak, aku harus semangat, aku harus mau berusaha untuk sehat lagi, untuk bisa beraktivitas lagi, sehingga bisa seperti biasa. “Semoga obatnya cocok yaa bapak.” Kataku kepada bapak. Aamiin
Teman-temankupun mengontakkuu, karena waktu kuliahpun sudah didepan mata, minggu depan aku mulai masuk kuliah. Dan harus balik kesurabaya. Aku harus pastikan kondisiku baik-baik saja dan normal kembali. Pun dengan mama-mama anak didikku, sudah menghubungi lagi kapan bisa mulai mengajar les bahasa inggris lagi. Alhamdulillahnya, mereka baik-baik semua, tahu dengan kondisiku, aku belum bisa balik kesurabaya dalam waktu dekat ini, aku butuh waktu untuk pulih. Karena terkadang dadaku masih nyeri dan panas.
Alhamdulillah,8 hari sudah aku lalui dan kondisiku sudah mulai membaik, tetapi aku terkadang masih merasakan nyeri didada dan terasa panas, sehingga bapaku mengkontrolkan aku lagi setelah obat yang aku minum habis. Dengan dokter yang sama, beliau bertanya “Bagaimana, ada perubahan?” aku menjawab, alhamdulillah sudah tidak demam dan sakit kepala, tetapi terkadang dada saya panas dan nyeri pak dokter. “oh gitu.” Jawab singkatnya J .
Lalu, sembari pak dokter menulis resep obat, aku bertanya, “pak dokter, apa saya terlalu banyak aktivitas atau bagaimna ya kok nyerinya terkadang tiba-tiba gitu, kalau sudah nyeri ndak bisa dibuat apa-apa.” Pak dokter menjawab “ ya enggak gitu,” dengan senym-senyum. :D . “ya memang radang paru-paru, dibuat aktivitas nanti sembuh.”   “oh gitu ya pak, ya semoga segera sembuh.”

Alhamdulillah, 6 hari kemudian aku bisa beraktivitas seperti biasa, dan sudah aku putuskan untuk kembali ke surabaya karena perkuliahan sudah dimulai. Walaupun terkadang masih sakit dadaku, aku harus banyak-banyak dibuat tiduran memang dan aktivitas kecil kecil. Setiap kali bapaku selalu mengingatkan untuk mencari matahari pagi, jangan bosan-bosan minum air putih, air hangat.  Iya lakukan itu semua. Alhamdulillah sekarang sudah sembuh. Semoga minggu depan aku bisa membawakan presentasi pertamaku setelah menjadi mahasiswa baru di pasca ini. Bismillah semoga kuat dan diberi Allah kemudahan dan kelancaran.  Doain ya.. :D
Begitu panjang banget ya ceritaku.. lalu apa kalian sudah memetik hikmah yang bisa kalian ambil dari ceritaku?
Jadi yaaa, jika kalian sedang sakit demam, belum tentu itu penyakit DB atau typus, ternyata ada ada penyakit-penyakit lain yang indikasinya adalah tubuh kita demam, sakit kepala dan lain lain. Maka dari itu, jika demamnya tidak berkesudahan selama seminggu ataupun dua minggu, segera periksakan ke dokter spesialis yang lebih tahu tentang penyakit dalam. Karena kalau kita di USG bisa terlihat indikasi penyakit apa yang mengarah ketubuh.
 “Nggak apa-apa sakit itu, dinikmati saja, diterima, ridho, ridho, ridho, memang menyedihkan, tapi jangan buat dirimu sedih berlama-lama ya kalau sedang sakit. Sakit ada obatnya, mahahari masih bersinar terang, cari hiburan yang baik, cari nasihat yang bisa membuat kamu semangat dan ingin sehat lagi. Karena kalau kamu sedih merasa tidak nyaman ataupun aman itu juga akan menghambat proses penyembuhan. Jangan merasa sendirian.”  Kata-kata itu yang aku ucapkan pada diriku sendiri. :D
Entah kenapa, ketika kemaren sedang sakit, aku buka youtube, tiba-tiba Allah perlihatkan aku dengan salah satu channel yaitu ceramah AA Gym dengan judul “CARA TERBAIK MENGHADAPI PERSOALAN HIDUP” dimenit menit pertama beliau langsung ngomong tentang kesehatan. Pertama beliau bertanya “Hadirin, bapak ibu semua, ingin sehat apa ingin sakit?” . ya hadirin semua menjawab ingin sehatlah yaa.
Beliaupun merespon “Iya betul sekali, semua orang itu ingin sehat, karena sehat adalah nikmat kedua setelah iman, kita bersyukur kita diberi kesehatan Allah, tetapi yang sakit juga harus bersyukur, karena Allah sedang mengampuni dosa-dosanya, dan yang paling penting juga kalau nggak ada orang sakit banyak orang juga yang di repotkan, kok bisa? Iya bisa!” inti dari Aa gym
“Iya repot, kalau tidak ada yang sakit, lalu siapa yang dokter priksa? Siapa yang akan beli obat, apokter pasti akan tutup, lalu bagaimana pegawai-pegawainya menghidupi keluarganya, lalu tidak ada gunanya fakultas kedokteran, tidak ada yang mau masuk universitas kesehatan, itu semua karena tidak ada orang sakit, kalau kita sakit berarti kita sedang membantu mereka, sedang meringankan beban mereka, karena mereka mendapat uang dari kita yang sakit, nah berpikirnya seperti itu bapak ibuk, berbaik sangkalah pada Allah, ini mungkin juga ujian untuk kita yang sedang sakit,kalau enggak dinaikan derajatnya sama Allah, ya Allah yang ingin dihapuskan dosa-dosa kita, maka berbaik sangka sama Allah.” Inti dari perkataan Aa gym
  Padahal teman-teman, tanpa aku tahu kalau isinya tentang apa yang sedang menimpaku saat ini. Sepertinya Allah sedang menjelaskan dan memberikan aku sebuah alasan kenapa aku diberi sakit dari video pendek di youtoube channel nya Aa gym tersebut. Ya Allah begitu sayangnya Engkau kepada diriku hingga Engkau menghiburku dan menguatkanku dengan cara tidak disangka-sangka.
Dan dalam videonya pun Aa gym berpesan untuk menerima keadaan yang sedang menimpa kita, sakit juga di terima, sehat juga alhamdulillah disyukuri, beliau menganalogikan dengan murid SD dengan murid SMP, pasti setiap ingin lulus kelevel selanjutnya dari SD ke SMP, harus melewati ujian dulu dari gurunya, yang mana kalau sudah lulus bisa naik kelas. Begitupun dengan ujian yang menimpa kita saat ini, kita harus menerima ujian ini, ujian ini adalah bagian dari episode-episode hidup yang harus dilalui, bisa jadi kita nanti menjadi manusia lebih baik lagi, kuncinya dengan sabar dan sholat.
Video tersebut seperti menyadarkanku sekaligus mengingatkanku bahwa semua ini adalah ujian yang harus aku lalui. Aku harus menerima, aku harus memafkan diriku yang mgkin ceroboh dalam menjaga kesehatan. Semoga Allah segera memberikan aku kesembuhan dan sehat bisa memperdayakan diri, membantu orang lain, memanfaatkan diri, meningkatkan kapasitas, dan banyak hal yang perlu aku kerjakan dijika aku sudah sehat. Sekali lagi, aku harus terima sakit sementara ini dan berusaha untuk sehat kembali. Thanks Allah for giving me chance to close with you. InsyaAllah semoga dengan aku sakit semoga kedekatanku dengan Allah lebih dekat lagi. Aamiin
Untuk kalian yang sedang sakit kalian diberi Allah kesempatan untuk memperbaiki diri, seperti berlatih bersabar, berlatih untuk dekat dengan-Nya, berbaik sangka dengan apa yang Allah berikan. Dan masih banyak lagi hikmah sakit itu. Jadi jangan sedih ya, semoga kalian juga yang sedang sakit diberi kesembuhan Allah. Tetap semangat menjalani hidup ini.
Untuk kalian yang melihat teman sakit, janganlah tambah membuatnya sedih ya, hiburlah mereka ya, mungkin saat-saat itu yang sakit sedang merasa bahwa dirinya tidak bisa apa-apa, untuk itu sebagai teman yang baik jangan memaksakan kehendak yang belum bisa teman kalian yang sakit lakukan. Jangan lupa mendoakannya ya.
Terimkasih sudah membaca J 






Saturday, July 20, 2019

A value from finisihing my study




Halloo everyone,
How’s life?

I hope you always fine and happy wherever you stay.
Yappps, today I want to share you my story when I graduated from my college. It’s such a happy time. But, I had to manage my emotion, tried to not feel too happy when I get something great and not feel too sad when a thing has not run well. I had to remember everything is temporary. Is it right? Yes, you have to say right. Ok.  J

Guys,, I was happy i have finished my study. However, there is a long process to finish it. I have to through 8 semesters and face the barriers or distractions during my study. You have to know that i got the SKL (surat keterangan kelulusan or the legal letter that I finished my study) when I in 9 semester. Consequently, I should pay the tuition in 9 semesters.  It’s oke. My parent always supports me, but I felt so disappointed with myself. I forgot about it and kept going.

Thank God, I have through this amazing journey. I cannot imagine what a greater Allah is. He helps me, every step of my life, I can’t believe 4 years finished. I could face every single problem, I could adapt to the new atmosphere, I could understand well with the thing I don’t know before.  Oh Allah, you are so kind, you are my shine, and my greater. Alhamdulillah for everything.

Well, I just tell you that before I choose  English major, I don’t have enough knowledge or experience in studying English major. I just love English, and I am willing to learn. Firstly, when the class was started, I felt nervous, doubted, and frightened. I was afraid to say anything when my lecturer asked me, I cannot say anything in English, just “YES and NO.” No no no, I am kidding. I just confused how to speak English. I was silenced, and silenced. Just felt like shock culture (Entering English class). I am from the suburban and most of my friend from the urban of Indonesia.  That is why I realized my friend more skillfull than me.

Every day, I tried to adapt the new atmosphere, tried to find some motivations, did not afraid to ask anything when I confused, knowing my self deep, knowing people around me, whether in the class or outside class related with English . Guess what? Time to time, it proved that I started to comfort with my class, so I enjoyed the class, got new encouragement, got new friends, a new perspective of life. Those were things that make me feel alive, and  I didn’t want to give up in English.

Secondly, in the first semester, my score was very bad. It was because I had no ways to apply the effective study. my lecturer asked me, and I said honestly. Then, I start to trace the effective ways to improve my English. Through the youtube channels, reading a book, watching the film or news, visiting a certain website, talking to people, and so on. I did all those ways. It was because I like English and I am willing to learn, I never to stop finding ways to improve my English.

Sometimes I felt so stress it was because I compared my English with my friends who good in English. However, I realized soon that I am different with my friends, I had to struggle more than they did. I have to love my self more than others love to, love myself means do not compare with others. Just the way I am. I have to force myself being work hard and stay focus on my progress, not others progress. That’s my power to keep going on.

I firmly believe that when I give big effort and dua on my goals, as soon as possible I will get the greater result of my sacrifice. I believe God doesn’t sleep, so He always watches mee, keeps accompany me in this process. That is why I do not feel alone when I am struggling alone. There is Allah beside me, and always. I believe Allah will give me a way how to solve my problem, especially in my academic problem when I never give up to find the solution and facing it gently. I trust my self and always trust.

Briefly story, at the end of my semester I aware that my English improve and I had finished the examination. I  got the degree S.PD, and yay, alhamdulillah Allah always give us the right time. In this years, I finished my study. I enjoyed my whole study process. I love the process, and you have to guys.

Guys, don’t ever underestimate yourself in something that you never study yet. You have to struggle harder than your friend, you have to willing to learn, read, watch, even listen to everything or everyone who supports you and helps you grow the next level. Don’t worry about the future when you today is struggling for something you want. Don’t worry about people judgment when you settled down. You must keep going on. Positive mind.

Do not forget to involve Allah in everything you struggle on. Just believe, Allah hears you, and watch your effort. Be kind to everyone, do not compare yourself. It because we are different. We have something special on ourselves. I believe it and you have to. Love your progress, and stay humble.  If I can through this process, I believe you too.







Friday, July 19, 2019

Cerita nih, nerbitkan buku pertama




Assalamu’alaikum warohamatullah gaess...
I hope you always fine and happy wherever you stay right now. Aamiin
Bagaimana nih pengalaman hidup tahun 2019 kalian sampai bulan ini? Apa ada yang menantang? Yang seru? Atau bikin kesel? Ehehe, boleh lah dishare ke kolom komentar aku. Ehehe feel free to write anything on my blog ya. Ini platform untuk tempat kita sharing n berdiskusi, tapi entahlah, ada yang baca apa enggak, gue harap suatu hari nanti ada yang berkenan baca n termotivasi oleh tulisan-tulisan guee, ceile gue. Udah stop basa-basinya ya. The next topic that i want to share is tarrrrraaaaa... yap, seperti yang ada ditulisanku sebelumnya, aku will share how i can publish my first book. Proses awalnya aku bikin buku itu bagaimana, InsyaAllah akan aku ceritakan dibawah. Stay on page yaaa.
Well, sekedar sharing yaa, bukan niat untuk menyombongkan diri, tapi untuk mencintai menulis memang juga butuh proses, kita mau nggak berproses, dan semua orang itu sebenarnya bisa menulis, tinggal mau nggaknya menulis. Kalau mau ya maka pasti ada tulisan-tulisan yang dihasilkan. Untuk itu, jika kalian mengunjungi blogku ini ingin tahu caranya bisa nulis, ndak usah pusing-pusing bagaimana menulis yang baik dulu, tapi mencobalah menulis mulai sekarang. Mulailah sering membaca-baca, ya sudah kita ketahui kan, semakin banyak kita membaca semakin jago kita menulis. InsyaAllah seperti itu.
Menurut pengalaman menulisku, sejak dibangku SMP, aku diamanahi guruku  menjadi bagian dari pengurus majalah sekolah, nah disitu, tulisan-tulisan siswa siswi sebelum ke redaksi aku saring dulu denga guruku, mulai dari kelas satu sampai kelas tiga mereka bebas mengirim tulisannya, berupa artikel, tips-trik, puisi, pantun, cerpen, dan lain-lain ke majalah sekolah. Begitupun dengan aku, aku juga selalu ikut ambil andil untuk mengisi majalah sekolah.
Mulai dari itu, aku mulai menyukai menulis, mulai membiasakan untuk mau menulis. Sehingga, selama SMP alhamdulillah ada karya-karyaku yang dibuat di majalah sekolah. Tidak sampai disitu, masuk SMA aku mulai mengenal blogspot dari temanku, akhirnya membuatlah akun blog untuk pertama kalinya, dan disitu aku mulai menulis cerita-cerita yang random tentang kehidupanku. Tidak hanya diblog, aku menulis catatan pribadiku juga dibuku specialku. Hehehe.
Lalu, masihh tahaaan baca? Haruslah...... #maksaamat
Ya begitu, sejak masuk dunia perkuliahan aku simpan tulisan-tulisanku di laptop, dan tahun kemaren alhamdulillah Allah izinkan aku menerbitkan buku. Dan itu prosesnya luar biasa lama ya, kok bisa lama Nin? Ya karena aku nulisnya enggak keburu-buru, nulisnya santai badai. Tapi juga ada target, tidak terburu-buru selesai. Sekitar 7 bulanan baru bisa terbit. Ehehehe
Trus bagaimana prosesnya tulisanmu bisa sampai ke penerbit?
Gaiss, sekarang ituu mudah banget lhooo cari penerbit, apalagi kalau kalian tinggal di perkotaan, banyak jasa yang menawarkan penerbitan buku. Jadi kalian tidak usah bingung-bingung cari penerbit, langsung search aja di google penerbit buku yang ada didaerahmu yang sesuai dengan kebutuhanmu. Ya memang ada penerbit yang sudah kondang, dan ada juga penerbit yang namanya baru ada dua tahun atau satu tahun. Tapi ya, kalau menurut aku, kalau niat kita ingin menebarkan kebaikan lewat tulisan kita, kenapa harus ribet-ribet cari penerbit yang banyak aturannya, iya memang ada penerbit-penerbit yang kondang dan memang bagus banget hasilnya dan biayanya juga enggak kalah bagus, ehehe. But kembali lagi ya, untuk penulis awal seperti aku, hehehe, coba jangan tunda-tunda niat baik kamu untuk menerbitkan buku, jadi jangan banyak ditunda-tunda untuk memilih penerbit ya. Jika kalian sudah srek and click  sama satu penerbit ya menurutmu sesuai kebutuhan yaa langsung aja action, kirim saja naskahnya. OKEEEE!!
Oiya perlu kalian ketahui yaa, di buku pertamaku ini, aku dibantu temen-temenku untuk jadi satu tim, ada yang jadi editor, ada yang bantu buat cover n pamplet-pamplet gitu. Jadi, I’m not alone finishing this book. Pesanku untuk kalian yaa, kalau merasa butuh bantuan orang lain untuk mewujudkan impianmu, carilah bantuan, kita memang enggak bisa membangun impian kita sendiri. Pasti ada campur tangan orang-orang yang akan membantu kita. carilah orang-orang itu, minta sama Allah, pasti akan dikirim orang-orang baik ke kalian.
Percaya enggak percaya, teman-teman yang aku jadikan tim dalam buku pertama ini memang enggak aku sangka-sangka sebelumnya, mereka tiba-tiba hadir dalam hidupku dan mau membantu untuk bangun mimpiku. Those are people that Allah send to me. Thanks God. Pun dengan kalian, ketika kalian punya mimpi jangan dipendam sendiri, harus di bicarakan dengan teman-temanmu, nanti pasti ada dari mereka yang benar-benar ingin membantu. Jangan kwatir yaa.. Allah will always give you the way to catch your dream while you believe in Him.
Ayo teman-teman, mari menulis sekarang, bisa jadi tulisanmu itu bisa membuka hati banyak orang, ataupun satu orang, yang mana bisa merubah hidupnya, cara pandangnya, kita tidak pernah tahu tentang itu, maka menulis sajalah. Soal di terima nggak, dibaca enggak, oleh pembaca ndak usah dipikirkan. Biarkan Allah yang mengatur segalanya, tugas kita adalah menulis kebaikan.
I think that’s all enough gaesss, segitu duluuuuu yaaaaa. Love youuu...... walaupun aku nggak pernah tahu siapa aja yang baca blog ini, aku ucapkan makasih banyaak ya sudah mau membaca yaa, i hope you get positive energy from here, Aamiin J
Babyeeeeeeeee...... see you in the next topic.

         



Monday, May 13, 2019

We are different. (Berkunjung Ke Papua Kedua Kalinya)


Melihat sekitar

Assalamu’alaikum sahabat pembaca yang baik, apa kabar kalian semua? Bagaimana hari-harimu di tahun 2019 ini? Pasti mengasikkan dan seru yaaa.... so sorry I haven’t post my story since January, it was because i didn’t focus to make content for my blog. Kemaren itu kebanyakan fokus di finishing bukuku pertama... Horeeeeee....
Akhirnya, Alhamdulillah dehh, Allah mengizinkan aku merilis buku di tahun 2019. Dan sebelum cerita perjalanan buat buku, aku mau berbagi kisahku saat aku satu bulan berada di Papua dibulan januari kemaren insyaAllah ada makna yang perlu aku bagikan ke kalian, jadi stay read my writing yaaa.
Oke aku mulai cerita, sebulan setelah dari jogja tahun 2018, di bulan januari pertengahan aku diundang adik sepupu untuk menghadiri acara pernikahannya yang diadakan di Papua. Wuih jauh amat Nin? Iya, sebagian keluargaku memang berdomisili disana. Jadi aku kudu kesana. Hehe
Sebelum aku sampai di bandara OSOK, Papua selatan, ya pastinya aku sudah menghubungi keluarga yang berada di papua untuk siap-siap menjemput kedatanganku di sana. Kali ini aku tidak sendirian berangkatnya, aku bersama sepupu dari bulek aku yang ada di papua, dia berencana bekerja di Papua. Perjalanan di atas pesawat sekitar 3 jam lebih, antara surabaya dan papua. Karena aku pilih penerbangan yang langsung. Ya lumayan lama ya di pesawat, hehe.
“Lalu nin, pelajaran apa yang kamu dapat selama di Papua kemaren?”
Ya sabar teman-teman, ini masih mau cerita, mau ngetik ini, hehe..
Walaupun ini bukan kali pertama aku mengunjungi tanah Papua, kali ini durasi waktu aku tinggal disana lumayan lama, sekitar satu bulan kurang 4 harian aku disana, jadi banyak hal yang aku serap dan terima di sana, yang perlu aku renungkan. Yang bisa jadi nanti menjadi pembelajaran kita semua dalam kehidupan.
Kalian pasti pernah mendengarkan bahwa setiap daerah mempunyai karakter dan kebiasaan yang berbeda-beda dalam menjalani kehidupan, dalam menghadapai segala sesuatu yang ada dalam kesehariannya, iya memang iya. Tapi rasanya beda banget ketika aku merasakannya sendiri perbedaan itu dalam kehidupan nyata, tidak lagi berpegang dalam tulisan saja. Ini memang aku buktikan dan rasakan ketika bertempat tinggal di daerah yang berbeda.
Saat di Papua, aku tidak hanya bertemu dengan satu suku saja, aku bertemu berbagai suku yang ada di Indonesia. Aku sendiri adalah suku jawa, di tempat tinggal keluargaku di Papua, ada yang berasal dari suku bugis, ada yang suku daerah jawa barat, lupa namanya, suku dayak, suku dari NTB, atau NTT, dan juga banyak suku asli dari Papua. Jadi aku mengamati orang-orang yang dari suku berbeda tersebut, mulai dari bagaimana mereka berkomunikasi dan menjalani kehidupan di sana.
Dari suku Papua sendiri, mereka mempunyai kepala suku di sana, nama kepala suku yang ada di daerah situ adalah Beni Wato, rumahnya dekat dengan tempat tinggal nenekku yang kebetulan aku tinggali. Menurut informasi yang aku dapat, kepala suku bertugas untuk mengerahkan anggota sukunya untuk mengadakan acara tertentu, menyelesaikan konflik, dan mengatur adat istiadat yang dipegang teguh oleh suku tersebut.  Beda banget sama suku jawa ya, kalau di kampungku biasanya yang memimpin ya kepala desanya.
Suku-suku yang lain selain yang dari papua, harus menyesuaikan diri di sana, nggak boleh berlaku semaunya sendiri, harus saling menghormati. Tapi ketika kepala suku papua sudah memutuskan suatu hasil A, maka yang lain juga harus mematuhinya. Kata keluargaku dulu awal tahun 90an memang seram tinggal disini, seram karena masyarakat setempat masih keras banget wataknya dengan orang asing. Akan tetapi sekarang sudah terbiasa, karena sudah lama di sini, sudah tahu watak orang sini.
Ya kalian tahu sendiri kan, kalau orang jawa itu kebanyakan manut alias patuh, kebanyakan dari kita (orang jawa) patuh saja ketika ada perintah apa, namanya juga orang paling ramah seindonesia, katanya orang jawa.hehe. Ya begitulah ternyata di daerah papua juga seperti itu,  orang-orang jawa bisa beradaptasi dengan orang papua, mereka bisa mengambil hati orang papua kalu mereka patuh dengan aturan.
 “Lho nin, aturannya apa sih orang papua itu?”
“banyaklah, mereka banyak maunya ternyata.”
Misal ya, kalian baru pertama kali Papua, jangan kaget ya kalau di jalan-jalan itu banyak babi, banyak anjing berkeliaran, bahkan tidur-tiduran di tengah jalan. Masyarakat Papua sudah sepakat dari awal, jika anjing ataupun babi yang di jalan-jalan itu tertabrak, siapapun itu orangnya harus mengganti rugi dari perbuatannya, biasanya sih bayar denda, bergantung besar kecil ukuran hewaannya, semakin besar hewan yang di tabrak semakin tinggi harga dendanya, bahkan sampai jutaan. Padahal itu hanya seekor babi dan anjing, kawan.
Nah kalau di Jawa, boro boro di denda, terkadang ada kucing ketabrak saja, yang nabrak melarikan diri, uuuh, kasian banget ya. Mungkin dari sini kita bisa lihat rasa empatinya orang Jawa kurang akan kehadiran binatang-binatang sekitar, ya memang ada sih orang-orang yang sayang banget sama binatang, tapi kebanyakkan orang di Jawa, apalagi di kota, mereka lebih mengutamakan meninggalkan hewan yang ditabrak daripada harus berhenti untuk menguburnya. Astagfirullahal’adzim.
Lanjut ya, lalu ketika enggak bisa bayar denda ke pemilik binatang itu, maka boleh jadi akan di sidang dengan kepala suku, katanya sih begitu. Adil banget ya sana itu. Dan teman-teman tahu? Masyarakat Papua itu keras, kolot banget sifatnya. Kalau nggak dituruti apa mau mereka, mereka akan main palang. Dikit dikit mau tawur.
Kemaren waktu disana, sempat ada beberapa keluargaku yang bekerja di puskesmas bercerita puskesmas setempat pernah di palangi kayu, di tutup oleh masyarakat sekitar, tidak boleh beroperasi, karena obat yang diberikan tidak manjur katanya, mau nggak mau harus bayar denda. Padahal ya, kalau di jawa, ketika kita sakit lalu berobat ke puskesmas atau ke dokter kalau 3 hari tidak sembuh-sembuh ya kita bawah kerumah sakit, atau periksa dilain dokter, kan begitu yaa? mereka tidak, mereka cenderung menyalahkan obatnya yang keliru tidak sembuh-sembuh, dan minta ganti uang denda.
Waah, beda banget ya sama keadaan yang ada di jawa.
Eh kawan, cerita diatas bukan untuk menyudutkan masyarakat disana ya, aku hanya ingin menyampaikan kondisi real disana sesuai apa yang aku lihat dan rasakan. You knowlah, kalau beda daerah beda kondisi masyarakatnya.
Dari kejadian diatas kita bisa simpulkan ya teman-teman, kita harus benar-benar menyadari bahwa setiap daerah mempunya karakter mereka masing-masing, dan kita harus menghargainya. Inilah indonesia, yang bhineka tunggal ika. Sekeras apapun masyarakat sana, tetapi mereka adalah satu bangsa dengan kita. seberbeda apapun mereka dengan kita, kita adalah saudara untuk mereka. Mereka adalah salah satu aset bangsa yang perlu digali potensi-potensi untuk memajukan tempat mereka. Yang mana ini bukan hanya tugas pemerintah, tugas orang-orang yang merantau disana juga untuk membantu masyarakat setempat untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Kita yang berada di pulau jawa ini harus bersyukur banget hidup dengan orang-orang yang tidak banyak aturan atau tuntutan adat istiadat, orang-orang dijawa masih bisa diajak diskusi jika ada persoalan, orang-orang jawa menurutku lebih bisa diajak kompromi dan berpikiran terbuka. Semoga dengan adanya perpindahan penduduk dan banyaknya orang merantau di papua, semoga bisa membawakan dampak positif ke masyarakat sekitar. Semoga kedepan papua bisa menjadi daerah yang kondusif dan saling gotong royong.

We are different but we are in the same nation, so we have sam mision right?


Kamu nggak sendirian..


Se-Frekuensi

Assalamu’alaikum sahabat setia....

Apa kabar Ramadhan hari ini? Sudah kah kalian mengagendakan suatu kegiatan? Atau kalian sudah memiliki jadwal tersendiri untuk menjalani ibadah puasa ini? Semoga Allah bantu kita untuk menjemput pahala-pahala di bulan suci ini yaa.... semoga Allah juga ridho atas amal-amal yang kita kerjakan selama bulan puasa ini. Aamiin Yaroobal’alamin

Hari ini aku ingin bercerita nih kepada kalian semua, hari ini tepatnya adalah hari ke-7 ramadhan di tahun 2019. Sebenarnya banyak banget yang ingin aku ceritakan kejadian-kejadian yang membawakan hikmah dalam bulan Ramadhan ini, tapi entah kenapa yaa, setelah menerbitkan buku kemaren, dan fokusku di hal lain, rasanya susah banget jari ini untuk memulai mengetik lagi. Entahlah ya, sering aku alami saat dimana aku sudah menyalakan laptop, membuka Ms.Word, tapi tiba-tiba ada aja distraction datang, tiba-tiba aja moodnya nulis hilang begitu saja. Mungkin kemaren diriku butuh waktu sendiri ya, aku harus menghargai itu. Pernahkah kalian mengalami hal seperti itu? Sudah mau mengerjakan sesuatu, alatnya sudah siap semuaaa, eh tiba-tiba malas untuk memulai, Astagfirullah, itulah godaan, godaan setan ada dimana-mana guys, Waspada.


Tapi, tahu nggak kalian? Allah itu sayang banget sama aku, pastinya juga sayang banget sama kalian, sama kita semua. Ketika aku berada diposisi malas itu, aku terus memohon, “Ya Allah jangan sia-sia kan aku di dunia ini, jangan ya Allah, gunakanlah aku seperti apa yang Engkau mau ya Allah.”

Dan jawaban Allah adalah hari ini, malam ini, aku seperti kena strum energi positip yang sangat luar biasa. Aku dibangkitlah lagi untuk menulis, dan memulai membagikan kisah-kisah yang insyaAllah juga akan menularkan energy positip ke kalian.
Ya, di hari ramadhan ketuju ini, aku akan memulai menulis kisah-kisahku yang patut aku tulis, jadi nanti pasti judul selanjutnya yang akan aku tulis. Ditunggu ya...


Kali ini, bicara tentang “Sefrekuensi”. Aku menemukan orang-orang sefrekuensi dengan apa yang aku rasakan, aku dipertemukan dengan orang-orang sefrekuensi dengan apa yang aku pikirkan. Satu per satu orang-orang itu mulai muncul dalam kehidupanku secara sadar tidak sadar, dan kini aku mulai sadar, kalau kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang sama tujuannya, kita akan berpapasan dengan orang-orang yang sepemikiran, itu benar adanya. Dan itu membuat diriku merinding.


Entah mengapa, semakin kesini orang-orang sefrekuensi Allah hadirkan di kehidupanku yang benar-benar aku sadari. Iyaa, tadi juga tidak sengaja, aku dipertemukan dengan seorang adik tingkat jurusan PLS yang kebetulan teman dari salah satu adik tingkatku bahasa inggris, awalnya aku membuat janji dengan adik tingkatku bahasa inggris untuk buka bersama di salah satu warung dekat kos-kosan, setelah sampai di warung es campur, dia berkata “Mbak, nanti Uni (nama samaran) ikut ya, nanti dia nyusul, habis ngelesi dia”. Aku menjawab “Okey dek, siyap.” Setelah itu kita akan makan es campur bertiga, MasyaAllah mereka adik-adik yang istiqomah banget, tidak seperti aku yang masih jauh banget dari syar’i.  Setelah itu, kita berencana untuk taraweh bersama di Masjid Ar-Rozak di G-Walk. Setelah menyelesaikan makan, kita sholat magrib dikosan masing-masing. Lalu, aku jemput adek bahasa Inggris dikosannya, ternyata dia tiba-tiba sakit perut, dan tidak bisa ikut, jadi aku memutuskan untuk tarawih di dekat kosan juga. Namun, perjalanan kekos, mempertemukan aku dengan adik jurusan BK. “Mbak, kok balik? Ndak jadi ke Ar-Rozak?” katanya. “Iya dek, kapan-kapan aja ya, dek Mila sakit ei, sholat didekat kosan aja yuk.” Jawabku. “yaudah nggak apa-apa mbk, kita aja yang ke Ar-Rozak, mbak balikin motornya aja ke kosan, aku boncengin.” Ajaknya.

Entah kenapa ya, dengan entengnya aku bilang “oh gitu, okedah aku jg blm pernah kesana. Aku taruh motorku dulu ya.” Akhirnya aku dan dia memutuskan sholat di masjid Ar-Rozak dan malam ini waktuku banyak ku habiskan dengan si adik jurusan PLS ini bukan adik jurusan b. Inggris yang awal sudah berjanji. Ya itulah rencana Allah enggak disangka banget.

You know what?

Setelah pulang dari tarawih, aku memutuskan untuk mengajaknya ngobrol sebentar, randomlah ngobrolnya, dia juga merespon, “ayo mbak aku free, aku juga nggak ngapa-ngapain dikosan.”
“Yuk dek, beli beli es, kita ngobrol klo kamu mau, kan kita jarang ketemu sedekat ini, kan kita nggak pernah ngobrol bareng.”

Yay, akhirnya kita duduk dan mulai perbincangan.

Aku lihat dia ingin meluapkan sesuatu yang ada di dirinya, ingin menyampaikan sesuatu yang rasanya dia pendam sendiri sampai saat ini. Mulailah dia bercerita dan aku mendengarkan.

“Mbak, aku nggak tahu akhir-akhir ini aku nggak bisa fokus, aku selalu aja lupa, aku tahu apa yang harus aku kerjakan, tapi aku nggak bisa kerjakan, aku malah mengerjakan sesuatu hal lain, aku tahu klo aku butuh bergerak, tapi aku nggak bisa gerak, aku hanya bermalas-malasan, aku hanya tidur-tiduran, dan aku nggak tahu kenapa aku begini mbak, mbak pernah mengalami hal tersebut?”

Aku belum menjawab. Dia meneruskan cerita

“entah ya mbak, rasanyaa aku itu pengen... (dia terdiam seperti berat sekali mengucapkan hal itu)

“aku pengen ...... (jeda sejenak) aku nggak tahu mbak, akhir-akhir ini, ingin saja menyakiti diri sendiri, ingin rasanya marah dengan diri sendiri, kayak aku itu nggak kuat.”

Aku menarik nafas panjang dan berpikir (Ya Rabb, ada banyak masalah yang lebih besar dari pada masalahku, Ya Rabb, Engkau begitu cinta padaku, sehingga kau hadirkan adik ini untuk menyadarkanku, bahwa sering kali aku juga ada diposisi dia, pelan-pelan, aku Engkau ajari mengatasinya, mungkin saatnya ini aku berbagi untuk menguatkannya)


Dan dia terus bercerita yang intinya, dia ingin bunuh diri saja, ingin lepas dengan masalah hidup. Dalam hatiku berkata (Ya Rabb, kuatkanlah adik ini ya Allah.)
Yang bikin dia tidak terima dalam kondisinya dia masih blm rela blm bisa melepas kepergian ibunya 4 tahun yang lalu, sekarang bapaknya menikah lagi, dia blm bisa menerima semua itu. Dalam hatiku, “Ya Rabb, Engkau tahu yang terbaik untuk adik ini, bantulah dia ya Allah.”

Aku terus mendengarkan curhatanya, yang membuatnya berkaca-kaca, aku memegangnya, “Dek, kalau kamu bisa melewati fase ini, kamu akan naik level, derajatmu akan diangkat oleh Allah, insyaAllah, yang kuat yaaa, Allah selalu bersamamu dek, aku juga.” Ucapku sambil menatapnya.

Entah mengapa tiba-tiba aku dengan mudahnya mengatakan “Dek, kamu sekarang punya Mbak, kalau ada apa-apa boleh cerita, boleh main kekosan, boleh hubungin mbk, kalau mbak bisa bantu, InshaAllah aku bantu, tenang yaa, kamu bisa melewati hal ini.”

“Ya Allah mbk, aku nggak tahu malam ini kok bisa bertemu dengan mbk.” ujarnya
“Mbak pernah kok ada diposisi sepertimu.” Ucapku.
Terus apa yang mbak lakukan?” tanyanya.
“setiap mau tidur, mbak ngobrol sama Allah, mbak minta maaf sama Allah, mbak bilang mbak nggak kuat, mbak curhatkan apa-apa yang ingin mbak curhatkan, lakukanlah, aku kira itu akan membuat kita tenang, karena Allah pasti bakalan menjawab dan memberi petunjuk kita, walaupun tidak langsung, seperti ini, mungkin kamu di arahkan Allah bertemu aku, untuk menjadi temanmu berbagi, Allah sayang banget sama kamu, makanya kamu diuji seperti itu, kamu kuat, kamu pasti bisa melewatinya, ayo belajar menerima, dan terus berproses ya, jangan menyerah, kan ada mbk disini.”


Matanya berkaca-kaca dan dengan syahdu berucap. “Iya mbak, aku bersyukur bertemu dengan orang-orang yang baik mbak, iya benar mbk, Allah yang menuntun kita, Allah yang mempertemukan kita, dan aku yakin Allah ngasih ujian sesuai kemampuan hambanya, aku senang bisa bertemu dengan mbak. Allah baik banget ya Mbak. Ya Allah, aku ingin menangis.” Katanya.


“iya dek, kita nggak boleh diam saja ya, mbk juga masih bljar, kalau ada masalah ya berusaha mencari solusi, minta bantuan ke Allah, entah nanti kita dipahamkan lewat tulisan, lewat orang yang kita temui, lewat apa yang kita lihat, lewat sesuatu yang kita tidak sangka-sangka, tugas kita adalah berusaha ya, jangan patah semangat, hidup memang seperti ini ya dek.”

“Iya mbak, bener banget, pikiranku sedikit terbuka sekarang mbak, aku harus bisa menerima, harus bisa bangkit, aku nggak mau seperti ini, duh pengen cerita banyak deh mbk tentang Allah, duh Allah itu maha segalanya ya...”

Perbincangan singkat itu kita sudahi karen hari sudah mulai malam. Energi positif dia tertransfer ke diriku dan begitupun sebaliknya, karena kita sefrekuensi. Ah, aku ingin bangkit saja.

Dia merasa lebih lega, lebih relaks lagi, bebannya agak mulai berkurang, walaupun hanya bercerita, hanya mencurahkan apa yang ingin dia luapkan, hari ini sangatlah menyenangkan bertemu dengan orang sefrekuensi, sefrekuensi kalau Allah tujuan akhir kita. katanya dengan tegas mengarah kepadaku.  “Allah yang memintarkan kita, yang membodohkan kita, Allah yang ngasih masalah, jadi Allah yang memberikan solusi, jadi apa-apa ke Allah ya mbak, minta ke Allah.”

Kita berdua mulai yakin seyakin yakinnya bahwa Allah itu maha baik, Allah enggak bakalan ngasih ujian diluar kemampuan hambanya, Allah tempat kita bergantung, dan semuanya bermuara pada Allah, kembali ke Allah. Ya ternyata aku dan dia juga sefrekuensi, sama-sama tertuju ke Allah. Aku merinding saat itu.

Jadi teman-teman, seberat dan sebesar masalah kita pasti ada masalah yang lebih lebih lagi yang dihadapi oleh orang lain, karena kitanya aja yang tidak suka bersosialisasi menjadikan kita sempit pikiran, sehingga seperti kita saja yang mendapatkan masalah, padahal diluar sana banyak orang-orang yang melawan dan berjuang dalam menyelesaikan masalahnya masing-masing yang lebih besar dari masalah kita.


Yuklah, berjuang dalam episode-episode kehidupan kita masing-masing, jangan putus asa ya, apalagi mau bunuh diri, jangan yaaa, mungkin saat kamu ada diposisi ingin menyerah kamu butuh seorang teman, kamu butuh seorang yang siap mendengarkan, carilah salah satu di antara temanmu, yang bisa menerima keluh kesahmu, atau kalau butuh aku hubungi aku ya, mungkin saja aku bisa membantu. KAMU ENGGAK SENDIRIAN J
Jalani masamu, cintai prosesmu, terima hasilmu. “Your Best start is Now.”